aku masih bisa mendengar suara burung berkicau, merasakan hangatnya sinar matahari dari jendela kamarku. bangun dengan segar mengucek sebelah mata yang masih setengah sadar.
"pagi anak bunda, " sapa bundaku yang membuka pintu untuk mengajakku sarapan pagi.
"pagi, bund. "
"yuk turun, ayah udah menunggu di meja makan. "
bersiap menuruti permintaan bunda dengan membersihkan tempat tidur, mengganti baju dan menuruni tangga adalah rutinitas setiap minggu pagiku. sebenarnya aku malas sih bangun pagi gini, huft, maunya bangun jam 12 siang aja biar lebih lama tidurnya.
selesai bersiap, kubuka pintu kamar untuk turun ke lantai bawah, satu persatu anak tangga kulewati. saat berada di tengah perjalanan tangga aku sudah melihat bunda dan ayah berada di meja makan sedari tadi. tersenyum melihat kearah ku. hal sederhana yang sungguh menghangatkan hati seorang anak.
"pagi! sini Bisma, sarapan dulu. " sapa ayah.
"pagi yah. "
duduk di meja makan adalah salah satu rezeki yang tidak semua orang bisa rasakan tapi ntah kenapa aku tidak pernah bersyukur karena mendapatkan ini semua, apa aku belum merasakan kesusahan makanya aku susah untuk bersyukur?
aku mengambil sepotong roti dan selai untuk kusatukan menjadi sarapan lezat di pagi ini. diiringi susu manis buatan bunda. satu gigitan mantap oleh ku kepada roti yang berisikan selai nanas favorit dan tegukan susu manis di kerongkongan.
ayah tuh gak suka banget kalau makan ga bercerita, bahkan makan biskuit pun harus cerita, ntah itu cerita tetangga sebelah menendang seekor anjing karena berusaha mencuri sendal ataupun anak tetangga yang kecebur di got. melihat kita semua sarapan pagi tidak ada yang ber-bicara, ia menyahut membuka topik hari ini. "Bisma, besok hari senin bukannya kamu ada ujian? nah mumpung besok ulangan dan hari ini adalah hari minggu! yok! kita pergi refreshing."
abangku pun yang baru keluar dari kamar langsung melotot dan bersemangat dengan tawaran ayah! bagaimana tidak? sudah sebulan full kami tidak pernah jalan-jalan lagi sekeluarga, "Hoaff... eh? EH? AYOK! GASSS. "
dengan berat hati aku menerima tawaran ayah yang membosankan itu, aku tidak tau kenapa berkumpul bersama keluarga selalu membuat ku bosan dan ingin cepat pulang untuk bersendiri di kamar.
kami makan dengan lahap masakan bunda dengan cepat karena sebentar lagi jam menunjukkan pukul 08.30 jika berangkat ke pantai lewat dari jam 09.00 itu tidak enak. ayah dan abang terlihat mempercepat makanannya membuat bunda mengomel sebentar.
"makan tuh pelan-pelan aja, yah, bang. air pantai gaakan lari kok kalau kita terlambat. "
"yakan tetap aja kita harus cepet bund biar bisa lama-lama di pantai. "
singkat waktu makanan dimeja telah habis, aku kembali ke kamar untuk bersiap, abang pun sama. bunda membereskan dapur, sedangkan ayah pergi ke garasi mobil untuk memanaskan.
membuka pintu kamar dan berlari kecil ke tempat kesukaan ku untuk bersendiri. menatap langit pagi ke jendela berharap bisa pergi merantau melihat dunia yang jauh menyakitkan karena bagiku dunia yang sedang ku alami ini sangat indah dan nyaman, tidak ada tantangan atau tangis kesedihan yang didapat.
saat sedang asik berkhayal, ayah berteriak dari lantai bawah, "anak-anak? gimana? kalian udah siap belum? kalau udah ayok! naikin barang kalian ke mobil. sebentar lagi udah jam 09.00!"
sungguh ribet sekali orang tua itu, padahal ini hari minggu. hari yang seharusnya aku bermalas-malasan di tempat tidur sebelum menghadapi ujian besoknya. "iya ayah, sedikit lagi aku turun. " mengemas dengan cepat barang bawaan ku sebelum ia berteriak lagi, hum, kalau di pikir-pikir itu membuat telinga ku sakit juga.
"lama banget, bis? kayak mau pulang kampung aja beberes nya. "
aku tidak terlalu menanggapi ejekan abang ku karena aku tau kalau ditanggapi ucapannya makin menjadi. semua barang bawaan pun di masukkan ke dalam bagasi mobil oleh ayah, juga bunda, ia masih sibuk menata peralatan memasaknya di samping ayah. dua pengantin vintage itu sungguh mesra, ya walau belum terlalu tua sih tapi cukuplah di panggil tua.
"siap semua!" teriak ayah yang bersiap menyetir maju menuju pantai batukaras pangandaran.
"SIAP! " abang dan bunda sungguh bersemangat.
"ya," ucapku sambil memain HP. hehe.
"MELUNCUR! "
di sepanjang jalan, ayah terus memutar lagu-lagu jadulnya yang membuat kepalaku pusing, melihat kesamping pun abang udah memakai TWS sejak berangkat, karena ia tau kalau di dalam mobil seperti ini bayi pun bisa mual jika mendengarkan lagu ayah, apalagi diselingi nyanyian nya yang tidak enak.
"yah, bisa ganti lagu gak? telingaku daritadi seperti di banting, " ucapku yang kelupa'an TWS dikamar tadi.
"apa? " balas ayah.
"lagu nya ganti. "
"oh volumenya di kasih tinggi? oke! nahh sudah. kau suka Bisma?"
"terserah ayah deh. "
aku menarik satu TWS dari telinganya untuk mendengarkan lagu, untung nya selera musik abang cukup bagus. wajar sih satu selera namanya juga anak muda.
di sisi lain ibu ku sedang mencari resep makanan yang cocok untuk dimasak ketika sedang dipantai.
saat sedang menikmati indahnya pertengahan jalan aku merasakan getaran kecil, tapi kenapa ayah, ibu, dan abang tidak merasakannya? apakah musik ayah yang terlalu keras membuatnya tidak merasakan? atau ibu yang terlalu fokus akan resepnya? atau abang yang... oh lupakan dia ternyata sudah tertidur lelap daritadi. tapi serius, ini seperti gempa yang memiliki kekuatan magnitudo 2,4. melihat kanan kiri tidak ada satupun yang memperdulikannya akupun kembali santai karena kupikir ini hanya perasaan ku saja.
"anak-anak! ayo bangun, kita sudah sampai di pantai batukaras pangandaran, " teriak ayah yang sangat bersemangat.
dengan setengah sadar aku melihat, ternyata kita sudah sampai. menyadari itu dengan cepat aku turun untuk membantu membawa barang bawaan menuju lokasi bersantai. abang membantu ibu untuk membawa peralatan masak, sedangkan aku membantu ayah membawa barang.
kami sampai dilokasi itu, menurunkan semua bawaan. ayah berjemur di pasir pantai, bersantai dengan kacamata hitamnya. ibu sibuk dengan pekerjaan memasaknya. abang membuka baju dan bersiap untuk berenang. aku hanya berdiam diri disamping air laut, membasahi kaki saja dan duduk di pasir pantai. ingin sekali membuat istana pasir disana tapi aku ingat umur sudah 17 tahun...
daripada tidak ada yang dibuat mendingan bantu bunda memasak disana pikirku. melihat aku menuju ke dirinya, ia sangat senang dan memanggil ku kesana. "bisma? tidak berenang nak?"
"ngga bund, capek. "
"kalau begitu ayo ikut bunda masak, nih racik sesuai resep yang ini ya. " bunda melihat kan ku buku racikannya.
"lumayan ribet ya bund? "
"gapapalah, biar kamu belajar juga sayang. "
saat sedang meracik bumbu yang diminta bunda, aku merasakan getaran lagi tapi lebih kuat. gawat! ini terasa seperti gempa magnitudo 7,5. ibu ku panik, ayah yang sedang berjemur juga tak kalah panik! semua orang lari menyelamatkan diri dan menjauhi pantai, sedangkan kita? kita semua sedang asik mencari abang yang berenang disana, tapi daritadi ia tidak naik juga ke permukaan, apa dia tidak merasakan gempa? selang lama kemudian kami mencari karena tidak ingin meninggalkannya sendiri terlihat ombak besar datang dari kejauhan yang bersiap melahap habis benda-benda didepannya!
"oh ya tuhan, itu tsunami, yah! kita harus pergi! "
"tunggu! disana! disana ada abang mu yang menuju kesini. "
"tapi air nya menuju kesini, yah! itu tsunami! lebih kencang kebanding larian mobil. "
saat satu keluarga kami ketemu, bergegas lari menuju mobil. menyelamatkan hidup. tapi tidak kah kau lihat? segerombolan manusia di pesisir pantai juga panik lari sana sini, kami lari dengan menabrak semua manusia didepan. sempat? atau tidak?
terlambat.
gelombang air setinggi 5 meter itu menyapu pesisir pantai dengan cepat. aku kehilangan genggaman ayah dan bunda, arus air itu menyeret ku kemana mana, aku tidak bisa melawan arus sekuat itu, dengan usaha yang kuat aku berenang menuju keatas untuk mendapatkan oksigen tapi saat ditengah perjalanan aku melirik ke kiri, sepotong dahan kayu besar menghantam kepala ku dengan keras, darah bercampur dengan air laut serta pasir-pasir kotor membuatku tak sadarkan diri.
bersambung
vote jika kamu suka! dukung penulis kecil ini ya. hihi🖤